Pacaran.. zina kah?

“SEBAGIAN PENYELEWENGAN YANG TERJADI DALAM PERKAWINAN YANG WAJIB DIHINDARKAN/DIHILANGKAN”

Kebanyakan orang sebelum melangsungkan perkawinan biasanya “Berpacaran” terlebih dahulu, hal ini biasanya dianggap sebagai masa perkenalan individu, atau masa penjajakan atau dianggap sebagai perwujudan rasa cinta kasih terhadap lawan jenisnya.

Adanya anggapan seperti ini, kemudian melahirkan konsesus bersama antar berbagai pihak untuk menganggap masa berpacaran sebagai sesuatu yang lumrah dan wajar-wajar saja. Anggapan seperti ini adalah anggapan yang salah dan keliru. Dalam berpacaran sudah pasti tidak bisa dihindarkan dari berintim-intim dua insan yang berlainan jenis, terjadi pandang memandang dan terjadi sentuh menyentuh, yang sudah jelas semuanya haram hukumnya menurut syari’at Islam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Artinya : Jangan sekali-kali seorang laki-laki bersendirian dengan seorang perempuan, melainkan si perempuan itu bersama mahramnya”. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim). Jadi dalam Islam tidak ada kesempatan untuk berpacaran dan berpacaran hukumnya haram.

[Nasihat Perkawinan (Artikel Assunnah.or.id). Judul Asli: Konsep Perkawinan Dalam Islam. Oleh : Ustadz Yazid Bin Abdul Qadir jawas]
Apakah hukum orang yang berpacaran yang dalam pacaran tersebut melakukan hubungan yang sebatas (maaf) cumbu rayu, pelukan, ciuman, dsb?

Insya Allah ayat ini bagus untuk kita simak :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
(Annur ayat 21)

Pada ayat lain Allah berfirman :

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau
ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah
kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (Annur ayat 31)

Kemudian mari kita simak beberapa hadits :

“Sesungguhnya ditusukan kepada salah seorang dari kalian dengan jarum dari besi lebih baik baginya daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya” Hadist Riwayat Ath Thabrani dalam shahihul jami hadist no.4921

Pada zaman sekarang, jabat tangan antara laki-laki dengan perempuan hampir menjadi tradisi. Tradisi bejat itu mengalahkan akhlak Islami yang mestinya ditegakkan. Bahkan mereka menganggap kebiasaan itu jauh lebih baik dan lebih tinggi nilainya daripada syariat Allah yang mengharamkanya. Sehingga jika salah seorang dari mereka anda ajak dialog tentang hukum syariat, dengan dalil-dalil yang kuat dan jelas, tentu serta merta ia akan menuduh anda sebagai orang kolot, ketinggalan zaman, kaku, sulit beradaptasi, ekstrim, hendak memutuskan tali silaturrahim menggoyahkan niat baik…..dan sebagainya.

“Kedua mata berzina, kedua tangan berzina, kedua kali berzina dan kemaluanpun berzina.” hadist riwayat Ahmad 1/412 Shahihul jami 4126

“Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan wanita” Hadist riwayat Ahmad6/357, dalam shahihul jami hadist no2509

“Tidaklah seorang laki-laki berkhalwat dengan wanita kecuali pihak ketiganya adalah setan” Hadist riwayat tumudzi, 3/474 misyakatul mashabih 3188

“Sesungguhnya hendaknya tidak masuk seseorang laki-laki dari kamu, setelah hari ini kepada wanita yang tidak ada bersamanya (suami atau mahramnya), kecuali bersamanya seorang atau dua orang laki-laki.” Hadist riwayat Muslim, 4/1711

[diambil dari tulisan Al-Akh Ruslan pada-MyQuran. Dalam diskusi dengan Tema: Patokan Pacaran Islami. Bahan Tulisan: Abdul Halim Abu Syuqqah, Kebebasan Wanita, Jilid 5, hlm. 71-80. Muhammad Shodiq, Wahai Penghujat Pacaran Islami, hlm. 48-73. Yusuf al-Qaradhawi, Fiqih Praktis bagi Kehidupan Modern, hlm. 19-26]

Rujukan :Buku Dosa-Dosa Yang Dianggap Biasa karangan

Apakah hukum seorang ikhwan yang mempunyai pacar tapi belum pernah melakukan hubungan apapun seperti diatas, bahkan belum pernah berdua-duaan dimanapun kecuali di rumah akhwatnya sendiri dengan ditemani orang tua akhwat? (akhwat tersebut memakai pakaian berjilbab dan sesuai syar’i)

Hadist riwayat Muslim, 4/1711

“Perempuan mana pun yang menggunakan parfum kemudian melewati suatu kaum agar mereka mencium wanginya maka dia seorang penzina” Hadist riwayat Ahmad , 4/418, Shahihul Ja’mii 105

“Tidak (dibenarkan seorang) wanita bepergian kecuali dengan Mahramnya” Hadist riwayat Muslim, 2/977

Dari Ibu Umar Ra, ia berkata, bersabda Rasulallah SAW :

“Tiga (jenis manusia) Allah mengharamkan atas mereka Surga: Peminum khamar (minuman keras), pendurhaka (kepada orangtuanya) dan dayyuts (yaitu) yang merelakan kekejian didalam keluarganya” Hadist riwayat Bukhari, fathul bari 8/45

Penjelmaan diatas di zaman kita sekarang diantaranya adalah menutup mata terhadap anak perempuan atau istri yang berhubungan dengan laki-laki lain di dalam rumah atau sekedar mengadakan pembicaraan dengan dalih beraramah-tamah, merelakan salah seorang wanita dari anggota keluarganya berduan dengan laki-laki bukan mahram.*

[diambil dari tulisan Al-Akh Ruslan dari-MyQuran. Dalam diskusi dengan Tema: Patokan Pacaran Islami]
Selanjutnya mari kita simak tanya jawab berikut ini. Diambil dari Albayan (http://www.forsitek.brawijaya.ac.id/index.php?do=detail&cat=arsipkon&id=kon-pacaran)

Sebuah pertanyaan:

Kenapa pacaran tidak boleh? apakah karena aktivitasnya seperti pegangan tangan dsb? kalo aktivitasnya diganti menjadi ngaji bersama dan masih menjaga kontak antara pria dan wanita … semisal tidak jabat tangan atau bersentuhan bagaimana?

saya punya sahabat laki2… tapi kami berkomitmen untuk menikah nanti… kontak kulit insya Allah saya jaga… kami hanya sebatas cerita untuk mengenal satu sama lain, dan menunggu dia kerja dulu… apakah hal ini diperbolehkan?? terima kasih

Jawaban oleh: Ustadz Abdullah Sholeh Hadrami

Dalam Islam tidak dikenal pacaran, yang benar dalam Islam itu nikah dulu baru cinta, bukan cinta dulu baru nikah.

Kemudian kalau mereka mengatakan bahwasanya pacaran itu supaya tahu pacarnya, maka perlu diketahui bahwa pacaran itu bukan ukuran. Karena ketika masih pacaran semuanya serba indah bahkan mereka mengatakan “dunia milik mereka berdua semuanya”, ini adalah palsu dan kebanyakan diantara mereka setelah menikah baru masing-masing tahu aslinya sehingga tidak jarang diantara mereka setelah lama berpacaran, 4 tahun pacaran, baru menikah satu tahun sudah bubar gara-gara mereka telah bercinta dulu sebelum menikah sehingga ketika menikahpun cinta mereka telah habis.

Jadi yang benar adalah menikah dulu, kemudian setelah menikah baru bercinta. Namun ketika sebelum menikah ada proses-prosenya dulu, yaitu saling tukar menuka biodata, kemudian banyak tanya bagaimana akhlaknya, din(agama)-nya, setelah semuanya cocok, sholat istikharah terlebih dahulu, lalu bermusyawarah, kemudian juga nadhor, baru nikah. Nah, setelah nikah itulah kita mebangun rumah tangga, yang difirmankan oleh Allah di surat Ar Rum ayat 21:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”

Jadi Allah berfirman setelah menikah kemudian nanti baru timbul sakinah, kedamaian ketentraman dan didalamnya ada mawadah warahmah (cinta dan kasih sayang)

Pernah di posting dalam milis oleh: Abu Hilmy

Terlepas dari halal dan haram pacaran (saya pikir tergantung dari niatnya ajah..), berikut ini opini dari rekan-rekan lainnya :
http://www.mii.fmipa.ugm.ac.id/new/?p=113
http://kosongempatsembilan.wordpress.com/2007/07/24/pacaran-ga-haram-kok/

Iklan

20 thoughts on “Pacaran.. zina kah?

  1. Assalamualaikum wr wb

    Dari hadits nabi yg sering kita dengar ttg larangan pria-wanita yg berdua2an.

    Pertanyannya:
    Kenapa terjemahannya diartikan berduaan/berdua-duaan??? dan bukan berdua saja???

    A jalan berdua dengan B
    A jalan berduaan dengan B

    Kerasa g ada perbedaan maknanya?

    Kalo kasus mojok berdua2an itu sih g perlu dibahas lagi, kayanya semua udah deal kalo itu haram…tapi kalo jalan di antara sekian ratus orang di mal…apakah itu berdua2an seperti tafsir Hadits???

    Then…apa yang salah dgn pacaran selama itu dijalankan dgn cara yg bener???

    Wassalam

  2. pacaran yang positif yaitu apabila pasangan kit bisa membuat kita dekat dengan Allah

  3. HARUSKAH KITA BERPACARAN???…………
    Berbagai pro dan kontra masalah pacaran terus mengalir dari berbagai samudra pendapat.INTINYA,.. semua hal yang akan kita lakukan tergantung dari NIAt yang baik sesuai prosedur agama, keluarga, masyarakat dan bangsa.banyak orang tanpa pacaran di akhiri dengan perceraiai dan apakah kita tahu PERCERAIAAN itu suatu tindakan yang DIBENCI oleh nabi bahkan Alloh, mengapa ! karena satu sisi ada yang tak ikhlas atau disakiti. Tapi banyak pula pernikahan yang mawahdah dan warohmah di awali dengan “pacaran”.Pacaran yang diniati dengan nafsu dan di isi oleh hasrat sex yang menggebu, jelas tidak boleh. tapi pacaran diniati dengan baik yang dibentengi dengan akhlak yang mulia. saya rasa tidak rugi….pacaran adalah PENDEKATAN.semakin kita tahu dan kenal semakin kita bisa tarik keputusan yang di ikuti dengan shalat istikharah.tapi itu semua tergantung yang menjalankannya……

  4. iya cih…ana sutuju ma maz adien,,cz klo qt g suka truz nikah (mslx dijodohkan ora tua qt),,nentang salah,,g d tentang qt tkt rmh tangga brujung pxesalan…ungkit sana,ungkit sini,yach…biarpun dmn2 org tua pzt pgn yg terbae buat qt…tp apa salahx mengharapkan yg jauh lbh bae dr yg d beri org tua qt…asal niatx iklas krn 4JJI,

  5. dalam hidup ini hanya cinta yang bisa mengubah hidup sesorang yang mana jika sikap sesorang itu jahat dengan adanya cinta,sifat sesorang itu bisa berubah hanya saja,tergantung dari sudut pandang orang yang melihatnya, aku selalu berfikir hidup ini aneh yah sangat aneh, manusia selalu meributkan hal-hal yang tak perllu kita perdebatkan karena masih banyak yang harus kita lakukan dalam hidup ini, selain cinta

  6. kita tidak boleh mengatakan kalau pacaran itu haram??kenapa???karena tuhan perna berkata bahwa kita hidup ini harus mencari pasangan nya,dalam arti kata kita tidak bisa hidup tanpa pasangan, yah pasangan yang mengerti akan cinta, perasaan serta harapan dan keinginan dalam hidup kita,.

  7. selama tidak melakukan hal-hal yang dilarang agama ok-ok aja. pacarakan untuk tahap penjajakan biar kita gak menyesal nantinya. dan yang paling penting landasi diri dengan iman, (kayak ustad aja he he he . . . . ) kalau dibilang zina dilihat dari segi mana dulu, dan bagaimana cara manusianya berpacaran. kalau DOI memang sayang dan cinta pasti akan menjaga hal semacam itu gak terjadi. dan akan memetik buah bila sudah matang alias halal gitu,

  8. itu mah, tergantung orangnya. ga selamanya juga pacaran dianggap zinah…? bisa juga dengan punya pacar jadi motivator segala suasana. seperti pacar saya…. (hehehehe….). \d:/

  9. Klo seandainya kita benar-benar percaya dengan apa yang telah diabadikan di Al Quran,bahwa
    -Banyak nanti orang-orang meminta di kembalikan di dunia tapi seandainya dikembalikan, orang-orang itu akan kembali dalam kesesatan.-
    Surga itu pilihan.Jalan sudah ada..Tinggal kita mau tidak melaksanakannya??
    Melihat yang bukan muhrim aja di Al Quran suruh nundukin pandangan,apalagi dengan pacaran msh tanya haram ga nya??Coba jawab deh pake hati jgn pake otak…

    Ga usah deh main-main dengan hidup kekal??
    What is kekal di surga??Buah-buahan tdk pernah busuk,setiap orang muda terus,etc..
    Sebuah kehidupan yang tak berujung.(Otak manusia ga bisa jangkau)
    Kekalnya neraka mengalahkan beratnya siksaan.
    Pernah bayangin hidup dgn waktu tak terhingga??
    Pernah bayangin besarnya seorang manusia dibanding >300 Milyar Susunan Galaksi di Alam Semesta.
    Ngelihat Bumi dalam satu Galaksi(Bima Sakti) aja udah tercengang,ga bs omong apa-apa.

    Balik ke pacaran,
    secara matematis,Klo halal/mubah berarti ga dosa.Tapi klo haram,berapa banyak dosa yg dicatat malaikat perdetiknya mpe selama kita berpacaran.Nah,siapa yang bertanggung jawab klo ky gt…

    Makasih, semoga bermanfaat sbg renungan kita…

  10. Ba’da salam…
    Dlm slh stu hdis rsllah brkta : tlh ku tglkn 2 prkra kpd kalian yg jka klian brpgng tgh pda k2x niscya klian t akn trsst slma2x…
    Sy mngjk kpd kta smua utk kmbli mmpljri 2 hal tsbt dgn baik shgga kbnrn yg kt usng mmlki dsr.

  11. pcran haram………!!!!!!!!!!yang tdk haram untuk masa pnjajakan dlm islam apa yach…?

  12. wah diskusi yang alot memang,,tapi saya sendiri sebenarnya mendukung untuk nikah dulu baru pacaran,,seperti orang2 jaman dahulu, terbukti pernikahan mereka lebih awet drpd orang2 jaman sekarang yg pacaran dulu bertahun2 tapi nikah ga smpe selama itu,,

    nice share

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s