Karnaval “Open Source Software”

11/12/2007

Apa yang terlintas dibenak anda tentang “Open Source Software”..? berikut adalah beberapa komentar dari rekan-rekan dan atau bahkan dari anda yang mengartikannya  sebagai aplikasi gratis, legal, susah memakainya, bisa diubah (customize) sendiri, ada yang lain..?

Coba di telaah lebih jauh, “gratis” benarkah? terkadang kita dibebani untuk biaya penggandaan CD/DVD kopinya atau biaya koneksi internet untuk download, “legal” benarkah? apakah aplikasi buatan Microsoft dan aplikasi yang berjalan di atasnya tidak legal? (tentunya bila mampu beli lisensinya… hehehe..), “susah memakainya” benarkah? bukankah kita yang telah terbiasa memakai aplikasi Microsoft?, “bisa diubah (customize) sendiri” benarkah? siapa sih pengguna aplikasi open source? paling tidak yang bisa mengubah-ubah adalah orang yang tahu benar pemrograman komputer, … yang lain apa ya?

IGOS yang mulai di publikasikan kurang lebih 2 tahun ini cukup memperkuat kampenye gerakan penggunaan open source di Indonesia (paling tidak pemerintah mulai mendukung) walaupun sebelumnya telah di rintis lebih dahulu oleh distro linux buatan anak bangsa seperti blankon, sebetulnya sudah disesuaikan dengan kebutuhan orang Indonesia. Namun permasalahannya sekarang adalah kultur budaya bangsa kita aja yang maunya instan sehingga untuk melakukan perubahan dirasa sangat susah. Karena dari dulu sudah terbiasa menggunakan aplikasi Microsoft dan itupun tidak ber-bayar (alias bajakan) menggunakan apliaksi yang lain dianggap menyusahkan. Contohnya saya, dulu ketika pertama kali belajar komputer sistem operasi yang dipakai adalah MS Windows 98 (sekitar tahun 1996, cukup gaptek juga saat itu) dan aplikasi yang berjalan di situ adalah MS Office 97 dan Instant Artist. Dua apliakasi yang saat itu saya anggap paling hebat bisa ngetik, bikin gambar, dan nge-print warna. Pada saat itu belum ada hiruk-pikuk masalah HAKI. Nah, pertama kali mengenal Linux pada saat itu saya mencoba distro Mandrake 3.1 (sekitar tahun 2001, cukup telat juga) wah ternyata menarik juga untuk di pelajari, cara instal, cara ngetik, cara nge-print, dll. Apa yang bisa diambil disini…? ya betul “kemauan” andai saja saat ini semua elemen masyarakat mau untuk tidak menggunakan atau paling tidak mengurangi ketergantungan pada aplikasi yang ber-bayar mungkin bangsa kita tidak perlu bingung-bingung dengan masalah HAKI. Instal dual boot, untuk menghindar sweeping bukanlah pembelajaran yang baik. Membeli lisensi sangat mahal untuk ukuran kita, baru beli sistem operasinya saja udah mahal belum lagi aplikasi office, pengolah gambar, dan aplikasi lainnya.. bisa-bisa lebih baik buat makan dari pada beli komputer… hahahaha…

Oke, open source software apakah solusinya? tentunya bagi yang punya duit nggak ada masalah beli yang ber-bayar, bagaimana bila tidak punya duit yang cukup…?. Berikut adalah alasan mengapa lebih memilih open source software (versi saya 1.0):

1. Tidak mahal, bahkan gratis
2. Berjalan di semua mesin
3. Lebih aman dari serangan virus
4. Banyak varian, bisa dipilih sesuai kebutuhan
5. Bisa di modifikasi sendiri
6. yang lain bisa menambahkan..?

Dan berikut adalah alasan mengapa mereka tidak memilih open source software (versi saya 1.0):

1. Susah makainya
2. Ribet ngatur berkasnya
3. Ribet update repo-nya
4. Nggak ada koneksi internet
5. Males belajar lagi
6. Tidak semudah Windows ..??
7. ada yang lain..?

“Wah.. saya terima kasih banget buat Microsoft, tapi bukankah ilmu itu milik Allah dan setiap mahluk berhak untuk mendapatkan ilmu”

5 Tanggapan to “Karnaval “Open Source Software””

  1. Hanster Says:

    Wah iya tuh…
    Tp kLo pke Linux jujur aja gw masih ribet..

  2. video Says:

    I was wondering, do you had any more blogs?

  3. norma Says:

    saya tidak komentari masalah karnaval… tapi…
    saya minta pengumuman lowongan jamsostek beserta formulir biodatanya… dooonk..
    masalahnya saya belum dapat formulirnya nich..

    makasih

  4. Donny Reza Says:

    Cuma, kadang-kadang…saking banyaknya, jadi bikin user bingung milih🙂 cuma emang kalo udah ketergantungan agak sulit juga migrasi ke OpenSource. Kayak saya yang doyan maen Football Manager, kan belum ada di linux :))

  5. imsuryawan Says:

    Kalau saja pemerintah ngambil tindakan berani, misal mengganti OS di pemerintahan pake Open Source, kayaknya Open Source di Indonesia bakal berkembang lebih pesat!🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s