Tradisi berlebaran

Beberapa hari lagi (dalam hitungan jari) lebaran sudah  di depan mata. Nampak beberapa pusat pertokoan sangat padat pengunjung. Beginilah, situasi mendekati perayaan lebaran hampir di seluruh pelosok kota di Indonesia. Dengan sengaja, beberapa hari yang lalu menyempatkan untuk melewati Jl. Malioboro. Hmm.. tepat dugaan, selepas dari Jl Mankubumi sudah terasa padat merayap (mungkin karena pas siang hari), udara terasa panas. Dengan gigi kopling satu, motor butut yang dinaiki semakin gerah, macet banget. Tengok kanan, becak, andong, sepeda nampak tidak bisa bergerak. Tengok kiri, puluhan motor berbaris rapi kepanasan. Hingga di depan pasar Beringharjo kepadatan pun tak berkurang. Seketika teringat “oh ya iseng2 cari batik ahh..”. Sampai di depan benteng Vredeburg, mencari tempat yang teduh untuk memarkir motor. Lalu berjalan kaki menelusuri trotoar yang penuh dengan pedagang kaki  lima.

Walaupun masih belum terpikir batik seperti apa yang dicari, terdengar suara “mau cari yang apa?”, yah akhirnya hanya bisa senyum saja dan sembari sesekali bilang “jalan-jalan saja kok bu..” :D.

Berlebaran identik dengan pakaian baru, setidaknya itu yang tertanam ketika masih anak2. Walaupun belum tahu begitu banyak tentang puasa Ramadhan dan puasanya pun mungkin belum sempurna, tapi cukup bahagia ketika mendekati liburan syawal. Diajak Ibu ke toko pakaian untuk beli baju baru. Toko yang sama setiap tahun (kerena pemilik toko tersebut adalah teman Ibu, mungkin biar dapet diskon.. :D). Memilih pakaian, baju dan celana panjang yang paling disenangi. Hingga kini toko tersebut masih buka dengan bangunan dan cat yang sama.

Mengapa harus baju baru?

Bila di amati, konsumsi produk garment mendekati hari raya (terutama lebaran) dan tahun baru sangat tinggi. Contoh kasus penjahit langganan bapak saya di kampung, menjelang lebaran pesanan jahitan sangat banyak bahkan bila tidak memesan jauh-jauh hari sebelum lebaran jahitan tidak bisa selesai (biasanya dalam 3-4 hari selesai pada hari biasa, karena mendekati lebaran mungkin bisa sampai 2-3minggu).

Apakah ada hubungannya dengan kata “kembali ke fitrah”?

Sudah banyak dan sering didengar dalam ceramah2 agama, orang yang selesai menunaikan ibadah puasa ramadhan akan kembali suci, terlahir kembali menjadi orang yang baru dan bersih dari dosa maka dari itu di simbolkan dengan penampilan yang baru dan bersih.

Bagaimana bagi mereka yang tidak berbaju baru?

Nah ini yang beda. Pakaian yang bersih dan suci (menutupi aurat) sudah cukup untukdikenakan. Namun juga diterangkan dalam tata cara beribadah, di anjurkan untuk memakai pakaian terbaik yang dimiliki.

Terlepas dari baju baru atau baju lama, yang terpenting adalah ibadah yang dijalani sesuai dengan rukun yang telah ditetapkan. Puasa yang telah dijalani sebulan penuh setidaknya bisa dijadikan sebagai “rem” pengendalian diri dan menghalalkan kesalahan di hari lebaran lebih utama dari pada baju baru. Akhirnya saya mengucapkan kepada rekan-rekan semua “Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s