Batu “bertuah”

Beberapa minggu terakhir ini di layar kaca, media cetak harian tak henti-hentinya mengulas berita dukun cilik. Tertuju ke salah satu daerah di Jawa Timur, Jombang. Berita adanya “dukun cilik” sangat cepat menyebar hingga salah satu liputan berita stasiun swasta nasional menampilkan gambar kerumunan orang-orang baik pria, wanita, muda, paruh baya, hingga tua mengantri. Tersebar kabar bahwa di daerah tersebut ada bocah kecil bernama Ponari yang memiliki batu dimana batu tersebut berkhasiat menyembuhkan penyakit dengan cara mencelupkan batu tersebut kedalam air lalu air tersebut diminum. Si bocah di gendong lalu berjalan mengitari susunan kursi yang telah dipersiapkan, lalu dengan tanggannya batu itu dicelupkan ke dalam wadah (gelas plastik, tempat minum) satu-persatu kepada warga yang telah mengantri.

Masih di daerah yang sama, selang beberapa minggu kemudian muncullah Dewi, sang penemu batu bertuah jilid 2 :D. Dewi, begitu nama itu disebutkan sebagai penemu batu bertuah kedua. Belajar dari peristiwa Ponari, Dewi tidak pernah diperlihatkan sosoknya. Hanya orang tua Dewi yang memegang batu sembari mulutnya berkomat-kamit didepan wadah besar berisi air, yang kemudian dibagi-bagikan kepada orang.

Secara logis, baik anda orang medis maupun tidak tentunya akan bertanya-tanya? kok bisa? supranatural kah?. Tentunya sangat sulit di tarik hubungan antara pengobatan modern dengan pengobatan supranatural yang berunsur magis. Percaya atau tidak.. ternyata ada yang sembuh, lalu dengan demikian apakah anda akan mempercayainya?.

Menurut saya yang paling unik adalah kerumunan masa yang begitu banyak hingga menyebabkan korban meninggal karena terjepit kehabisan nafas, kelelahan. Ingat dengan tragedi pembagian zakat? mengapa para warga saling berebut hingga mengesampingkan keselamatan mereka. Sepadankah apa yang akan mereka dapat (jika kebagian) dengan keselamatan (nyawa) mereka. Perhatikan kerumunan masa tersebut kebanyakan dari meraka adalah orang-orang tua dan tentunya dalam kondisi terjepit, dalam kerumunan masa yang penuh emosi (berebut) dan rasa belas kasihan yang tak ada.

Mungkin ini adalah gambaran sesungguhnya kondisi masyarakat Indonesia, Jawa khususnya yang hidup seiringan dengan hal-hal yang berbau magis.  Jangan bilang “namanya juga usaha..!”, usaha atau ikhtiar tentu tidak boleh disandingkan dengan hal-hal yang demikian karena dikhawatirkan akan menimbulkan syirik.

Iklan

3 thoughts on “Batu “bertuah”

  1. walahh, cool dah! tapi sebenrnya saya tak tau cerita yang selengkap ini. saya hanya tau ya hanya sekilas info ja.. gak tertarik sama yg gitu2 Om..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s