Mencontreng

12/03/2009

Kurang sebulan lagi pemilihan legislatif akan segera di gelar, semakin ramai media cetak dan elektronik menyoroti kinerja KPU. Distribusi kartu suara dan kotak suara menjadi soroton media seolah-olah hanya menampilkan ketidak siapan di daerah tertentu dalam pelaksanaan pemilihan nantinya. Tak kalah menariknya, pemilihan kali ini adalah kali yang pertama bangsa indonesia menggunakan tata cara yang berbeda yaitu menandai pilihannya dengan tinta (memberi tanda contreng).

Sempat terpikir mengapa menggunakan kata “contreng”, nampak aneh mendengarnya dan mengapa tidak menggunakan kata “centang” atau “coret”. Sengaja mencari arti padanan kata “contreng” di situs Kamus Besar Bahasa Indonesia, hasilnya tidak diketemukan kata yang mengandung, diawali, atau memuat kata “contreng” (pencarian:12/03 17:40). Mengapa media menggunakan kata “contreng”, bukankah media (setidaknya di indonesia) selalu menjadi “panutan” para pemirsanya. Apakah ada unsur komersialitasnya..?. Pada situs resmi KPU, tata cara menandai pilihan sudah tertera menggunakan kata “centang”. Centang adalah bahasa Indonesia (dalam sitkom Lajang, ada lakon yang selalu menekanan kata yang ia ucapkan dengan kata tersebut😀 ).

Optimalkah KPU dalam mensosialisasikan tata cara menandai pilihan?. Bagi mereka yang memiliki akses berita (cetak dan elektronik) mungkin sudah memahami (.. ragu2😀 ) mengenai tata cara yang baru ini. Mengingat berkali-kali ikut pemilihan (mulai dari tingkat kepala desa) menggunakan media paku untuk memilihnya (mencoblos). Lalu, apa yang akan menjadi kekhawatiran..? ya surat suara yang tidak sesuai dengan syarat sah suara.. ( ? ). Berikut adalah tata cara menandai pilihan pada pemilihan umum 2009 (untuk DPR dan DPRD).

Beri tanda centang pada

  • kolom nama partai, atau
  • kolom nomor calon, atau
  • kolom nama calon

lebih detail dengan gambar lihat disini.

Sangat menyedihkan apa bila negara dalam menyelenggarakan pemilihan umum warganya bersikap “pasif”. Bukannka ini juga akan menentukan kebijakan strategis setidaknya untuk 5 tahun mendatang. Golput, suara yang tidak sah, adalah salah satu indikator rendahnya partisipasi warga dalam hidup bernegara. Negara dimana kita dilahirkan, negara dimana kita tinggal, negara dimana kita diakui sebagai warganya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s