Ayam Goreng 126 Chick, Gedong Kuning

Bagi pencinta kuliner ayam goreng jangan bosan untuk menjelajahi tempat-tempat yang menjual ayam goreng sebagai menu utamanya. Walaupun sajiannya paling itu-itu saja dan tidak ada salahnya mencicipi cita rasa berbeda dari tempat yang berbeda pula.

Ada satu tempat yang patut di coba yaitu Ayam Goreng & Bebek Goreng 126 Chick. Tepatnya berada di Jalan Gedong Kuning ‘Selatan’ Yogyakarta, dari trafic light PLN ke arah selatan kira-kira 200 meter sebelah timur jalan, persis bersebrangan dengan perumahan Ditjen Pajak. Entah apa maksudnya warung ini diberi nama “126 Chick”, mungkin nomor jalan, nomor cantik, atau lainnya.

Warung disini menyajikan ayam goreng kampung kremes selain itu juga menyediakan bebek goreng, nah bagi rekan-rekan yang ingin mencoba rasa ayam goreng 126 Chick langsung saja datang ketempatnya. Menurut saya rasanya tidak kalah dengan ayam goreng yang dijual di resto atau restoran sekitarnya, garing, crispy, empuk, sambelnya pas dan *eh nasinya agak sedikit.

Iklan

Tahu Gimbal Pak Yono, BPD DIY

Tahu Gimbal, masakan khas Semarang (Jawa Tengah) ini dapat dijumpai di Jogja tepatnya di pinggir trotoar jalan Tentara Pelajar dekat dengan Kantor BPD DIY (biasa juga populer dengan nama Tahu Gimbal Depan BPD DIY, dari bunderan Samsat DIY ke arah utara).

Gimbal dalam kamus makanan orang jawa 🙂 adalah udang yang dicampur dalam adonan tepung terigu encer lalu digoreng, hampir mirip peyek (peyek udang). Gimbal udang ini biasanya dijadikan sebagai lauk pendamping nasi dan sayur, paling enak dimakan ketika masih anget karena kalo sudah dingin biasanya menjadi kurang renyah (baca jawa: mlempem).

Pada sajian tahu gimbal berisi potongan ketupat, tahu goreng, potongan gimbal udang, telur ceplok (mata sapi)/telur dadar (telur kocok goreng), irisan kol, bumbu kacang dan sedikit kecap manis. Lanjutkan membaca “Tahu Gimbal Pak Yono, BPD DIY”

Sate Klatak Pak Jono, Jejeran

Mencoba masakan sate yang tersohor di daerah Bantul, tepatnya di Pasar Jejeran, Wonokromo, Pleret. Sate Klatak berbahan dasar daging kambing yang dipotong-potong seukuran jempol dewasa dan cara memasaknya hanya dibumbui garam saja lalu ditusukan pada jeruji besi lalu dibakar diatas bara api dari tungku arang.

Mengapa disebut sate klatak?, menurut cerita kata klatak diambil dari bunyi yang keluar ketika sate itu dibakar. Mungkin karena hanya berbumbu garam dan ciri daging kambing yang berair ketika dimasak menyebabkan bunyi semacam klatak.. klatak.. :D. Lantas saya juga berpikir kenapa tidak dinamai dengan asal daerah masakan itu muncul, misal sate jejeran (nama daerah), sate pasar (nama lokasi jualan), atau yang lainnya, itulah letak dimana ke-khasannya sate ini.

Lanjutkan membaca “Sate Klatak Pak Jono, Jejeran”

Nasi Liwet Bu Wongso Lemu

Akhirnya dapat juga mencicipi nasi liwet di warung nasi liwet khas Solo yang dijual di Jogja, memang bisa dibilang jarang penjual nasi liwet di Jogja. Nama warungnya adalah “Nasi Liwet Bu Wongso Lemu, Keprabon Solo”, tepatnya berlokasi di jalan jembatan baru dari Jln. Teknika UGM ke arah barat menuju Jln. Monjali. Warung ini juga rekomendasi dari beberapa rekan kerja yang pernah mencicipi disana dan katanya juga ini adalah salah cabang dari yang ada di Solo. Di daerah asalnya, Solo, nasi liwet banyak dijual mulai dari restoran, warung, hingga pedagang kaki lima (bakul bambu/gendongan) yang penjualnya adalah ibu-ibu dengan mengenakan pakaian kebaya Jawa.

Sedikit bernostalgia, pertama kali mencicipi nasi liwet ketika sedang bertandang ke rumah saudara di Solo dekat dengan Taman Sriwedari (Jln. Selamet Riyadi) untuk makan sarapan (makan pagi), belinya di pinggir jalan kecil atau orang menyebutnya “gang”. Kemudian untuk kali yang kedua ketika berdomisili di Semarang bersama rekan kuliah (mas Prapto) untuk makan malam, tepatnya di daerah Tembalang (Jln Banjarsari) depan kantor Pos Tembalang, entah sekarang masih berjualan disana apa tidak?.

Lanjutkan membaca “Nasi Liwet Bu Wongso Lemu”